Praktek ‘Pluralisme Agama’ Dalam Sejarah

Praktek ‘Pluralisme Agama’ Dalam Sejarah

Oleh : Dildaar Ahmad

Dalam kehidupan sosial budaya, pluralisme adalah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain dan mereka hidup bersama serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi secara relatif sudah dipraktekkan sebelumnya.

Menurut Karen Amstrong, di masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, tidak ada tekanan pada kaum Yahudi, Kristen, atau Zoroaster agar beralih ke Islam. Kaum Muslim tetap menjaga apa yang diistilahkan oleh Karen pluralisme agama di Timur Tengah dan belajar hidup berdampingan dengan anggota-anggota agama lain, yang menurut Alquran, merupakan pewahyuan awal yang valid.[1]

Jauh sebelum masa Renaisans di Eropa ketika istilah pluralisme agama belum muncul, selama 600 tahun, para penganut tiga agama monoteis (Yahudi, Kristen dan Islam) yang bersejarah itu dapat hidup bersama dalam harmoni yang relatif damai di Spanyol yang Muslim. Kaum Yahudi, yang diburu-buru kematiannya di seantero Eropa, dapat menikmati kebangkitan budaya mereka yang kaya.[2] Tidak sedikit kerjasama dalam bidang pemerintahan dan ilmu pengetahuan antara tiga pemeluk agama tersebut. Masa Renaisans di Eropa tidak lepas dari sumbangan atau warisan ilmiah yang ditinggalkan oleh peradaban Muslim di Spanyol ini.

Dalam sejarah, kita bisa melihat praktek pengelolaan komunitas di beberapa peradaban lain yang pernah mengijinkan adanya pluralitas agama di dalam wilayahnya. Tidak ketinggalan Indonesia dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang tercatat dalam sejarah senantiasa berpindah agama nyaris tanpa pertumpahan darah atau perang agama.

Namun kita juga tidak menutup mata tentang terjadinya praktek-praktek pemaksaan, intimidasi dan teror baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun kekerasan mental berupa fatwa-fatwa dan pengucilan yang justru banyak dilakukan oleh orang yang satu agama namun lain mazhab pemikiran. Peristiwa yang banyak terjadi adalah teror dan intimidasi melalui fatwa; pemaksaan (ikraah) dan kekerasan baik fisik maupun mental.

Praktek-praktek penindasan atas nama agama dan tradisi justru dialami pada mulanya oleh para nabi dan pendiri sebuah kepercayaan yang sekarang dikenal sebagai agama. Nabi Adam ‘alaihissalam mendapat kesulitan dengan adanya iblis, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendapat kesusahan karena Namrudz penguasa waktu itu tidak mentoleransi adanya kepercayaan yang bertentangan dengan agama kerajaan. Nabi Musa ‘alaihissalam beserta bangsanya mendapat penderitaan dalam membangun bangsa dan beribadah sesuai kepercayaannya dalam lingkungan rezim pagan Firaun. Begitu juga nabi-nabi yang lain. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita tahu sangat menderita dalam menegakkan hak beragama dan berkeyakinan seperti hak beribadah, menyampaikan pendapat ajaran agamanya dan hak bertempat tinggal nyaman yang membuat beliau hijrah atau pindah ke Madinah.

Tanpa menutup mata terhadap praktek-praktek penindasan atas nama agama yang terjadi di dalam dunia non-Islam; dunia Islam dalam sejarah juga mengalami secara memalukan praktek-praktek yang bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri dalam kaitannya dengan pluralitas agama dan kepercayaan. Hal memalukan ini justru dilakukan terhadap saudara seagama bukan terhadap non-Muslim yang bahkan secara relatif diakui praktek positifnya.

Dua dari tiga khalifah pengganti Nabi mengalami fatwa pengkafiran yang berlanjut pada pembunuhan. Fatwa atau pendapat bahwa sebagian besar sahabat telah kafir sepeninggal Rasulullah saw. sampai sekarang bahkan masih ada di kalangan Muslim aliran Syiah hal mana memicu konflik dan friksi dengan kalangan ahlussunnah. Sejarah umat Islam kenyang dengan apa yang dinamai fatwa takfir oleh ulama yang dekat dengan kekuasaan yang berisi pengkafiran, kutukan dan celaan terhadap tokoh Islam lainnya. Hal demikian tidak berhenti pada fatwa bahkan berlanjut dengan pertempuran tidak seimbang dan penganiayaan. Hadhrat Husein, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad pernah mengalami hal serupa.

Pembunuhan Husein dijustifikasi oleh fatwa seorang Qadhi dan didukung beberapa ulama yang dekat dengan Yazid, penguasa waktu itu. Imam Abu Hanifah meringkuk dalam penjara karena fatwa pengkafiran bahkan murtad yang dikeluarkan ulama masa itu yang didukung penguasa. Imam Syafi’i yang sekarang dielu-elukan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia pernah mendapat julukan ‘adharru min iblis’ (lebih berbahaya dari iblis). Imam Malik pernah kesulitan beribadah shalat berjamaah karena fatwa. Beliau bahkan dipenjarakan dan mengalami cedera tangan hingga tak dapat digerakkan.[3]

Imam Ahmad mengalami kasus yang unik. Pada masa itu kekuasaan dinasti Abbasiyah didominasi oleh golongan Mu’tazilah yang sangat mengedepankan rasionalitas. Sifat rasional kelompok ini ternyata tidak menjamin mereka untuk tidak bertindak arogan dan irrasional ketika berkuasa. Imam Ahmad menjadi korban oleh ulah golongan ini. Beliau dipenjara, dianiaya, dicambuk, ditampar dan diludahi serta dipaksa merubah kepercayaan beliau yang menyebut Alquran itu kalamullah sementara golongan Mu’tazilah berpendapat secara dalam logika mereka Alquran lebih tepat adalah makhluk.

Di Indonesia pada masa kerajaan-kerajaan Islam, terdapat kasus serupa. Syeikh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging dan Sunan Panggung yang secara akidah berbeda dengan ulama mainstream kerajaan Demak mengalami pengkafiran dan pembunuhan. Kasus ini memang masih kontroversial mengingat apakah peran mereka terbatas pada ranah agama dan kepercayaan atau politis. Kerajaan Aceh pernah melakukan penganiayaan terhadap Hamzah Fanzuri ulama tasawuf tersohor masa itu beserta pengikutnya yang didorong oleh fatwa pengkafiran ulama Kerajaan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri. Begitu juga dengan daerah-daerah lain di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan sebagainya.

Contoh yang dialami oleh Imam Ahmad dimana ia dianiaya karena peran golongan rasional yang mendapat kekuasaan menyisakan beberapa pertanyaan terhadap kalangan pluralis. Dapatkah mereka bersikap pluralis ketika saat yang tepat guna mempraktekkannya tiba? Benarkah indikasi yang dikemukakan oleh pengkritik pluralisme agama bahwa paham ini mempunyai kecenderungan dualistis? Di satu sisi mengedepankan kebebasan beragama namun membelenggu mereka agar lebih pluralis dan bukan menjadi diri sendiri. Di satu sisi menentang truth claim dan ‘melarang’ para pengikut agama-agama menonjokannya guna kerukunan beragama namun tanpa sadar dirinya sendiri tidak lepas dari klaim ini. Di satu sisi mengomentari dan berfilsafat tentang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan namun sudahkah pengalaman dan pengamalan mereka membuat mereka absah dan kompeten berbicara, menilai dan memvonis agama-agama tersebut?

Nilai-nilai demokrasi, termasuk di dalamnya pluralisme dalam prakteknya secara sempurna memang tidak ada termasuk di dunia Barat yang berbicara atas nama demokrasi dan pluralisme. Standar ganda nampak jelas ketika kepentingan dan tradisi mereka mendapat tantangan atau mereka dituntut secara mendasar melindungi dan mengakui tradisi lain yang datang dari luar. Sebagai contoh kasus Salman Rushdie, kasus pendemokrasian Irak secara paksa lewat agresi; kritik ilmuwan Barat terhadap Holocaust dan akibatnya; kasus kartun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelarangan jilbab di sekolah negeri di Perancis dan lain-lain.


[1] Karen Amstrong, Muhammad Sang Nabi (Surabaya: Penerbit Risalah Gusti, 2002) cet. IX h.382

[2] Ibid., h. 5

[3] Munir Ahmad Khadim, ‘Laknat Fatwa Kafir’ (Jakarta: Sinar Islam, 1985) April, no. 4, h. 41

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s