“WARISI APINYA, JANGAN ABUNYA !”

WARISI APINYA, JANGAN ABU-NYA !”

 

Akhmad Faizal Reza

 

“Warisi apinya, jangan abu-nya” selintas terdengar kata-kata Bung Karno menggema. Dengan sedikit membayangkan, si Bung sedang mengepalkan tangannya ketika mengucapkan perkataan terkenal itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tentu, bukan kebetulan pada bulan Juni ini ada tiga peristiwa penting yang berkaitan dengan si Bung. Pertama, kelahiran Pancasila (1 Juni), yang menjadi “weltanschaung” bangsa ini. Sedangkan dua peristiwa lainnya, berkaitan dengan diri pribadi Bung Karno sendiri, yakni hari kelahirannya yang jatuh pada 6 Juni, dan kewafatannya tanggal 21 Juni.  Tetapi hal itu bukanlah alasan utama tulisan ini dibuat. Kata-kata beliau di awal tulisan inilah yang justeru melintas di benak saya akhir-akhir ini. Karena, meskipun ucapan tersebut telah berusia puluhan tahun, namun kandungan pesannya tidak dapat disebut “kadaluwarsa.”

Bahkan, dengan kondisi keberagamaan di tanah air kita akhir-akhir ini, kata-kata tersebut seakan-akan menemukan relevansinya kembali. Seperti juga di zaman Bung Karno, hari ini kita menyaksikan posisi agama yang begitu luhur dan mulia di tengah-tengah masyarakat, derajatnya kini turun sedemikian melorot. Ajaran-ajaran agama yang semestinya mencetuskan perdamaian, toleransi, tenggang rasa dan sikap-sikap positif lainnya kian sulit ditemukan. Sebaliknya, wajah agama yang mencuat ke permukaan adalah wajah agama yang justeru bertolak belakang dengan ajaran-ajaran agama sesungguhnya. Agama hari ini tak lebih sebagai alat pemukul, pencetus kekerasan, persekusi dan tindakan anarki. Dus, agama telah dipraktekkan dan diproyekkan demi memaksakan kehendak serta kepentingan kelompok tertentu. Dan yang selalu menjadi korban adalah saudaranya sendiri yang berbeda keyakinan  Kepada kelompok-kelompok seperti inilah mereka –yang mengaku sebagai para “pembela agama”- getol memraktekkan tindakannya. Lucunya, para koruptor kakap, yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat dan bangsa ini luput dari perhatian mereka.

 Jika puluhan tahun lalu Bung Karno begitu khawatir dengan gejala tersebut, maka hari ini pun seharusnya kita memiliki kekhawatiran yang sama. Kekhawatiran ketika agama kemudian hanya diterjemahkan pada tataran “permukaan, simbolik, bendera, dan label semata. Sementara, substansi yang merupakan intisari ajaran agama malah menjadi kabur.

Keprihatinan ketika agama menjadi alat yang memecah masyarakat dalam fanatisme sempit. Masyarakat disekat-sekat dalam perbedaan-perbedaan yang saling dibenturkan. Perbedaan memang sudah ada sejak awal. Malah melalui perbedaan-perbedaan inilah kita dapat mempersatukan bangsa ini. Keragaman suku, ras, agama serta keyakinan merupakan khazanah kekayaan tanah air kita. Tidak setiap bangsa memilikinya. Tetapi, kini perbedaan-perbedaan tersebut diperuncing dan dibenturkan. Tuduhan kafir serta sesat begitu mudahnya terlontar kepada saudara-saudaranya yang memiliki keyakinan berbeda alias tidak sepaham. Dengan serta merta pula, kelompok-kelompok ini menjadi sasaran anarkis dan persekusi.

 

Keluarnya fatwa-fatwa semacam ini menandai kekolotan yang masih menyelimuti pemahaman sebagian ulama terhadap Islam.  Salah satu contoh yang menarik adalah bahwa sampai tahun 40-an (dan mungkin masih ada hingga sekarang)  terjadi polemik seputar “Blood Transfusie” (Donor Darah). Sebagian ulama pada waktu itu mengeluarkan fatwa haram hukumnya bagi kaum muslimin untuk mendonorkan darahnya. Itu hanya dalam satu soal, dalam banyak persoalan lainnya, sebagian besar ulama-ulama kita hingga kini masih diliputi dengan kejumudan, atau meminjam istilah Bung Karno, “kolot bin kolot.” Penyumbang utama terjadinya hal ini dikarenakan adanya pandangan pintu  ijtihad telah tertutup untuk selama-lamanya. Dengan demikian, kita “diharamkan” untuk melakukan interpretasi atau penafsiran baru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Pandangan tersebut menyumbangkan andil bagi era kegelapan dalam sejarah umat Islam.  “..Dunia Islam adalah laksana bangkai yang hidup, semenjak ada anggapan, bahwa pintu ijtihad sekarang termasuk tanah yang sangar. Bahwa dunia Islam adalah mati geniusnya, semenjak ada anggapan, bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi “imam yang empat”, jadi harus mentaqlid saja kepada tiap-tiap kiayi atau ulama dari sesuatu mazhab imam yang empat itu !” (1965:333) tulis Bung Karno.

Jika Bung Karno begitu geram dengan sikap para ulama-ulama kolot. Sebaliknya terhadap Ahmadiyah, Bung Karno seolah menemukan oase di padang pasir. Literatur-literatur Ahmadiyah menawarkan pemahaman Islam yang segar dan sesuai tuntunan zaman. “Mereka (Ahmadiyah) punya features yang saya setujui, mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme” (1965:346). Kepada organisasi ini Bung Karno jujur mengakui, “Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana ia menyebarkan banyak perpustakaannya ke mana-mana. Sampai di Eropah dan Amerika orang baca ia punya buku-buku, sampai di sana ia sebarkan ia punya propagandis-propagandis. (1965: 389).  

 

 

 

 

One response to ““WARISI APINYA, JANGAN ABUNYA !”

  1. if you still say something all about ahmadiyah ‘s right ….
    i think, it will be the war for islam in this era and the feature…
    jangan mengatakan sesuatu yang baik jika hanya memahami itu hanya dari satu pihak saja…
    camkan itu….
    bertobatlah ….. karna itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan ridha Allah ..
    Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s