Siapa Yang Berhak ? Sebuah Pertanyaan…

SIAPA YANG BERHAK ?

SEBUAH PERTANYAAN UNTUK MENTERI AGAMA

Akhmad Faizal Reza

 

Setelah penyerangan untuk kesekian kalinya tehadap saudara-saudara kita dari Ahmadiyah terjadi, setiap orang yang concern dengan HAM menunggu tindakan atau kebijakan apa yang akan dilakukan aparat pemerintah, khususnya Menteri Agama, Maftuh Basyuni. Namun, penyikapan Menteri Agama sungguh jauh dari harapan. Alih-alih menyelesaikan masalah, apa yang diutarakannya malah menambah masalah baru, yakni agar Ahmadiyah membentuk agama baru di luar Islam. Benarlah pernyataan Adnan Buyung Nasution -dalam sebuah talkshow di TVRI- beberapa hari lalu, bahwa pemerintah terkesan menutup mata alias cuek terhadap persekusi yang dilakukan kelompok tertentu terhadap kelompok minoritas, terutama yang kerap menimpa Ahmadiyah. Apalagi praktek-praktek tersebut selalu berlindung di balik supremasi mayoritas. Pertanyaannya, dapatkah sebuah keyakinan dihakimi pandangan mayoritas ?

Penulis tidak pernah mengerti atas dasar apa Menteri Agama beranggapan bahwa seseorang atau sekelompok orang berhak digolongkan ke dalam Islam, sementara pihak lain tidak dapat digolongkan ke dalam Islam. Apakah Beliau memiliki SK atau Surat Perintah langsung dari Allah bahwa Ahmadiyah bukanlah Islam ? Jika Beliau memang memilikinya, itu lain soal, namun jika tidak, sungguh arogan pernyataan itu. Betapa tidak, Lha wong Rasulullah Saw sendiri pun -seorang insan kamil- tidak memiliki wewenang sampai sejauh itu. Seyogyanya kalimat tersebut tidak keluar dari mulut seorang Menteri Agama terhormat yang semestinya mengambil peran sebagai seorang bapak bagi semua umat beragama dan organisasi keagamaan di tanah air, tanpa diskriminatif.

 Penulis teringat –tentu Menteri Agama dan MUI sudah sering mendengarnya-cerita seorang sahabat Rasulullah yang berhadap-hadapan dengan musuhnya dalam sebuah peperangan. Ketika sang musuh kian terpojok, sekejap itu pula dia mengucapkan kalimah syahadat. Sahabat mengira hal itu hanyalah taktik untuk menyelamatkan diri belaka. Kejadian berikutnya dapat ditebak, sang musuh tewas meskipun dari mulutnya telah keluar kalimat tauhid. Kejadian ini dilaporkan kepada Rasulullah Saw. Beliau Saw sangat marah dan bertanya kepada sahabatnya itu, “Apakah kamu sudah membelah dadanya, dan mengetahui isi hatinya ?” Dari cerita itu kita dapat memetik pelajaran penting. Tidak seorang manusia pun mengetahui kadar atau derajat kesalehan seseorang. Oleh sebab itu, hanya Allah sematalah yang berhak menilai apakah seseorang termasuk ke dalam golongan beriman, muslim atau sebaliknya, kafir dan sesat (QS 16 :125).

Definisi Muslim

            Persekusi serupa yang menimpa Ahmadiyah di tempat asalnya, Pakistan dapat menjadi contoh. Pada 1953, berbagai golongan Islam, termasuk di dalamnya Jama’at-I- Islami, pimpinan Maulana Maududi, mengultimatum pemerintah Pakistan agar Ahmadiyah dikeluarkan dari ranah Islam, serta menuntut agar Chaudri Zafrullah Khan, Menteri Luar Negeri Pakistan –seorang ahmadi- dan beberapa ahmadi lain yang duduk di pemerintahan segera diberhentikan dari jabatannya. Tuntutan tersebut tidak di-amini oleh Khawaja Nazim-ud-Din, Perdana Menteri Pakistan pada waktu itu, sehingga pecahlah kerusuhan yang menelan korban jiwa tidak sedikit. Setelah peristiwa tersebut, Pemerintah Daerah Punjab membentuk sebuah Dewan Penyelidik. Salah satu pertanyaan yang diajukan Dewan ini kepada banyak ulama atau mullah di sana, adalah definisi seorang muslim. Hakim Munir dan Hakim M.R. Kayani, Dewan Penyelidik Pemerintah Punjab, dalam Report of The Court of Inquiry Constituted under Punjab Act II of 1954 to Enquire into the Punjab Disturbances of 1953, berkata : Dengan memperhatikan beberapa definisi yang diberikan ulama-ulama, terpaksa kami memberikan tanggapan bahwa tidak ada dua ulama yang sepakat tentang hal yang fundamental ini, Kalau kita terapkan definisi kita sendiri sebagaimana dilakukan oleh setiap ulama ahli itu dan definisi itu berbeda dari yang diberikan semua lainnya, kita semuanya serentak keluar dari Islam. Dan kalau kita ambil definisi yang diberikan oleh setiap ulama, kita tetap Muslim menurut pendapat ulama itu, tetapi kafir menurut definisi setiap ulama lain.”

            Khaled Abou El Fadl, -mengutip para sarjana islam klasik- menegaskan bahwa hak manusia di atas dunia mesti didahulukan daripada hak-hak tuhan (haqqul insan muqaddam ‘ala haqqil Ilah). Mengapa ? Sebab Allah pasti mampu membela hak-hak-Nya di akhirat, sementara manusia harus membela haknya sendiri-sendiri. Jadi, jika dikembalikan pada kasus Ahmadiyah, sangat tidak layak apabila Menteri Agama dan MUI mengeluarkan fatwa sesat, mengeluarkannya dari lingkungan persaudaraan Islam, apalagi menyuruhnya membuat agama baru. Hal ini sama saja menegasikan kemampuan Allah SWT untuk membela Hak-Nya sendiri. Semestinya ketika berhadapan dengan keragaman pendapat, kita mau belajar dari Ibnu Rusyd, “ra’yuna shahih yahtamil al-khatha, wa ra’yu ghairina khatha’ yahtamil al-shahih” (pendapat kami benar, tapi ada kemungkinan mengandung kesalahan; dan pendapat selain kami salah tapi mungkin juga mengandung kebenaran). Pola pikir para pendahulu kita yang sudah sedemikian maju ini seharusnya dikembangkan lagi, bukannya malah setback. 

Sesungguhnya apa yang terjadi belakangan menampilkan wajah Islam yang  paradoksal. Dari awal kita selalu menggembar-gemborkan bahwa kita adalah umat pecinta damai dan penuh toleransi. Sementara, realitas mempertontonkan kekerasan demi kekerasan berdiaspora di berbagai belahan negara-negara muslim. Tanpa disadari, dalang di balik centang perenangnya dunia muslim sekarang sedang terkekeh-kekeh menertawakan kekonyolan kita yang sudah termakan umpannya. Bagi mereka, kasus-kasus ini menjadi iklan sempurna yang seakan-akan membenarkan bahwa Islam dan penganutnya inheren dengan aktivitas teror. Kalau sudah begini, seharusnya kita malu dengan gelar yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita sebagai “Kuntum khayra ummatin uhrijatlinnas !”  Wallahualam.

 

Penulis, Pemerhati masalah sosial & agama, tinggal di Bandung  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One response to “Siapa Yang Berhak ? Sebuah Pertanyaan…

  1. kebenaran bukan pada hak yang memenangkan kebenaran ketika kita berani mengakui kesalahan yang nyata-nyata di permasalahkan.

    kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist
    Bukan hanya mengedepankan rasionalisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s