Quo Vadis Pergerakan Islam ?

QUO VADIS PERGERAKAN ISLAM ?

Oleh : Akhmad Faizal Reza

Tulisan ini dibuat mencermati pergerakan Islam yang terlihat paradoks akhir-akhir ini di tanah air. Di satu sisi, jika diukur secara kuantitatif, geliatnya terlihat begitu menyolok terutama semenjak bergulirnya era reformasi. Tetapi di sisi lain, tema-tema yang diusung pergerakan Islam ini bisa jadi seperti dinyalir Gus Dur –dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi- merupakan set back alias kemunduran.

Disebut “kemunduran” karena sebagian pergerakan Islam masih berkutat pada beberapa point di bawah ini. Pertama, masih melihat faktor eksternal sebagai penyebab utama (prima causa) kemunduran Dunia Islam. Kedua, berkaitan dengan point pertama, akibat terlalu berfokus keluar maka permasalahan yang dialami umat sendiri sering terluputkan. Ketiga, pertengkaran tak berkesudahan di antara berbagai elemen kaum muslimin yang dipicu fatwa-fatwa yang tidak menoleransi perbedaan. Dan keempat, kekeliruan mendiagnosa penyakit yang melanda kaum muslimin. Penulis mencoba memaparkan point-point tersebut lebih rinci.

Menyalahkan pihak luar sebagai biang keladi keterpurukan Dunia Islam memang cara yang paling mudah. Dan itulah yang dilakukan sebagian pergerakan Islam selama ini. Menunjuk hidung Barat atau kelompok non muslim sebagai The Common Enemy seolah sudah menjadi kewajaran yang tercermin tidak hanya di mimbar-mimbar khutbah Jum’at, bahkan juga di media-media Islam kita. Bukankah dari awal kita menolak provokasi Huntington dalam buku kontroversialnya “The Clash Of Civilization” bahwa Islam adalah “sparing partner” bagi pihak Barat, tetapi seringkali sikap kita sendiri seakan-akan membenarkan tesis Huntington tersebut. Hal ini sesungguhnya mengkhawatirkan dan memrihatinkan bahwa –seperti diungkap Khaled Abou El Fadl- pemikiran muslim tetap berbentuk pro-Barat atau anti–Barat daripada memokuskan diri pada pertanyaan yang jauh lebih penting : apakah pemikiran umat Islam di dunia modern ini promanusia atau antimanusia –apakah pernyataan doktrinal Islam modern manusiawi tidak? Pertanyaan penting ini harus segera dijawab, sebab penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia di sebagian besar negara-negara muslim masih jauh tertinggal.

Pernyataan penulis ini bukan berarti menafikan faktor-faktor eksternal yang senantiasa mendiskreditkan Islam. Tetapi, alih-alih selalu menyalahkan pihak luar, semestinya kaum muslimin melakukan otokritik atau bercermin apa yang salah dalam dirinya ? Mengapa suatu kaum yang dijuluki sebagai “kuntum khayra ummatin uhrijatlinnas” menjadi begitu terpuruk seperti sekarang. Ibarat tubuh, apabila kaum muslimin dalam keadaan sehat, tak seorang pun di dunia ini yang dapat menyengsarakan mereka. Kita semua menghirup udara yang sama, tetapi beberapa orang menderita asma, beberapa menderita alergi, beberapa menderita TBC, beberapa orang kena pilek, dan penyakit ini-itu, sementara beberapa orang lainnya tidak. Mengapa tidak? Salah satunya adalah masalah kekebalan tubuh. Bakteria, virus dan kuman sama-sama mendatangi orang yang berada dalam kondisi fit dan lemah. Sementara, orang yang fit dapat mementahkan kembali serangan bakteri dan kuman itu, sedangkan bagi yang lemah kekebalan tubuh mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap serangan ini.

Dengan kata lain, sesungguhnya Dunia Islam saat ini sedang tidak sehat alias sakit, sebab jika kaum muslimin berada dalam kondisi yang kuat serta fit maka tidak akan ada musuh yang berani menembus Islam. Seharusnya kaum muslimin dapat mengambil pelajaran dari sejarah, mengapa kerajaan Romawi gagal menaklukkan kaum muslimin di Arabia ? Begitu pula mengapa kekuatan Persia gagal menghancurkan mereka ? Padahal jika dibandingkan kedua kekuatan “superpower” tersebut, pada waktu itu, kaum muslimin sebagai sebuah kekuatan masih dipandang sebelah mata karena secara kuantitas masih sangatlah kecil. Jawabannya, karena kaum muslimin berada dalam kondisi yang sehat dan fit, dalam artian masih memegang erat keimanan yang sebenarnya(Lihat QS 48 : 29).

Terlepas dari praktek neo imperealisme dan neo kolonialisme yang dijalankan negara-negara Industri maju terhadap negara-negara dunia ketiga –di mana kebanyakan kaum muslimin kini berada- sebagian besar perilaku korupsi, penindasan, ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan justeru disumbangkan oleh para pemimpin di negara-negara muslim sendiri. Fenomena memprihatinkan ini secara tepat digambarkan Gamal Al-Banna –aktivis Ikhwanul Muslimin- yang melalui perjalanan hidup dan perjuangannya dia berani melakukan refleksi mendalam. Menurutnya, “Negara-negara yang tidak memeluk Islam, masyarakatnya bekerja dengan gigih dan ikhlas. Mereka memiliki kejujuran dalam berkata, profesionalisme, menepati janji, dan akhlak baik lainnya. Sedangkan sebagian besar pemimpin di negara-negara muslim selalu melakukan kebohongan publik dan penyelewengan. Kerja mereka hanya menindas dan mengekang.” Oleh karena itu, Gamal Al Banna sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar pahit bagi kita, namun tidak jauh dari kebenaran. Dia berkata, “Atas dasar alasan ini, maka masyarakat Eropa bisa jadi lebih dekat dengan Allah dan idealisme Islam dibanding banyak masyarakat yang mengaku memeluk Islam.”

Point ketiga, adalah pertengkaran tak berkesudahan di antara elemen kaum muslimin sendiri yang tentunya sangat menguras energi. Beberapa elemen kaum muslimin dengan ”absolute truth claim”–nya merasa memiliki otoritas serta kewenangan untuk mengafirkan, menuduh sesat terhadap saudara-saudaranya yang lain. Dan ironisnya, tuduhan, serta fitnah pengkafiran mewarnai sejarah Islam semenjak awal. Imam-imam Mazhab pun tak luput menerima tuduhan-tuduhan semacam ini. Tidakkah kita mau belajar dari sikap Imam Syafi’i ketika menghadapi perbedaan (ikhtilaf). Beliau sering menziarahi makam Imam Hanafi di Irak. Ketika Imam Syafi’i melakukan shalat dalam kunjungannya ke makam Imam Hanafi, sebagai bentuk penghormatan ia tinggalkan qunut pada shalat subuhnya ( karena Imam Hanafi tidak memfatwakan tentang kewajiban qunut pada shalat subuh). Atau tidakkah kita belajar kepada Ibnu Rusyd yang berkata, “Ra’yuna shahih yahtamil al-khata, wa ra’yu ghairina khata’yahtamil al-shahih” (pendapat kami benar, tapi ada kemungkinan mengandung kesalahan, dan pendapat selain kami salah, tapi mungkin juga mengandung kebenaran). Sudahkah kita belajar dari kedua contoh beliau-beliau ini ketika kita memfatwakan kafir kelompok-kelompok lain, semisal kepada Ahmadiyah ?

Tentu saja, saya di sini tidak menuduh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengafirkan atau bahkan melakukan tindakan anarkis terhadap kelompok atau golongan yang dianggap berseberangan. Namun, sikap itu saja tidak cukup. Jika memang benar –seperti diungkapkan oleh DK- bahwa HTI menjunjung tinggi persaudaraan Islam, semestinya HTI bersuara lantang membela –atau setidaknya memrakarsai diaolog- terhadap saudara-saudaranya dari golongan lain yang sedang teraniaya karena tuduhan-tuduhan tersebut. Lebih dari itu, seharusnya HTI pun menolak keras tindakan-tindakan anarkis yang merupakan buntut dari dikeluarkannya fatwa-fatwa pengkafiran tersebut. Sayangnya, pada point ini penulis jarang sekali mendengar HTI menyuarakannya.

Point keempat, berkaitan dengan kondisi “tidak sehat” yang dialami dunia Islam, sebagian gerakan-gerakan Islam meyakini bahwa satu-satunya obat untuk menyembuhkannya adalah melalui syariat (deus ex machine). Mereka beranggapan syariat –meminjam istilah Komaruddin Hidayat- sebagai cetak biru Ilahi yang sudah sempurna dan tinggal dilaksanakan. Hal itu sah-sah saja disuarakan, namun kemudian mereka menganggap diri merekalah yang berada di jalan yang benar sembari mencap kelompok atau golongan lain -yang tidak sependapat cara-cara penegakkan syariat seperti itu- tidak menjalankan Islam secara kaffah. Klaim ini tentunya berbahaya. Padahal, Syariat -seperti sering dirujuk oleh gerakan-gerakan Islam yang keukeuh ingin menerapkan syariat- tidak sepenuhnya memuat wahyu Allah Ta’ala, tetapi sebagiannya merupakan proses intelektual para cendekiawan muslim abad pertengahan, misalnya “Al-Ahkam al-Sulthaniyyah” karya Al-Mawardi yang disesuaikan dengan realitas Daulah Abbassiyah. Dengan demikian, untuk bagian yang terakhir ini kita tidak dapat menganggapnya “shahih likulli zaman wa makaan” karena bersifat spasial dan temporal, hanya cocok pada masanya.

Oleh karena itu daripada kita berfokus kepada pelarangan perempuan keluar malam, pemakaian baju koko atau baju muslimah bagi para PNS -seperti isi perda-perda yang diterapkan beberapa daerah belakangan- lebih baik dan substansial adalah bagaimana kita concern mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang masih melanda sebagian besar umat Islam. Wallahu’alam bishawwab.

Penulis, pemerhati masalah agama dan sosial, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s