Penindas VS Tertindas

PENINDAS VERSUS TERTINDAS

Akhmad Faizal Reza

Sampai detik ini, mata rantai penindas-tertindas tidak pernah hilang dari muka bumi.  Menurut Paulo Freire –seorang pendidik Brazil- Penyimpangan ini terjadi sepanjang sejarah ; namun bukan suatu fitrah sejarah. Dan ketika praktek-praktek penindasan bersimaharajalela, maka cepat atau lambat keadaan yang kurang manusiawi itu akan mendorong kaum tertindas untuk berjuang menentang mereka yang telah membuat mereka jadi demikian. Dengan kata lain, Freire mengungkapkan bahwa tugas untuk melawan penindasan, sejatinya berada di pundak kaum tertindas dan mereka yang sungguh-sungguh berpihak pada kaum tertindas tersebut. Karena kalau bukan mereka,  siapakah yang lebih siap dibanding kaum tertindas untuk memahami makna mengerikan yang terjadi pada masyarakat yang menindas ? Siapakah yang merasakan penderitaan akibat penindasan lebih daripada kaum tertindas itu sendiri ? Siapakah yang dapat memahami pentingnya arti pembebasan dengan lebih baik ? Beberapa pertanyaan tersebut dilontarkan Freire untuk semakin menegaskan bahwa tugas tersebut benar-benar harus diemban oleh kaum tertindas.

  Namun, perjuangan ini hampir saja menjadi paradoks. Sebab seperti dituturkan Freire, hampir selamanya, sejak awal dari perjuangan ini, kaum tertindas bukannya mengusahakan pembebasan, tetapi cenderung menjadikan dirinya penindas, atau “penindas kecil”. Sebuah contoh, jarang sekali seorang petani ketika diangkat menjadi “mandor”, tidak menjadi seorang tiran yang lebih kejam terhadap rekan-rekannya dulu dibanding dengan majikannya sendiri (1995 : 15).

Analisis Freire tersebut sangatlah menarik terutama apabila kita menerapkannya dalam lapangan keagamaan. Sejarah berbagai agama menunjukan kepada kita bahwa dalam rentang sejarahnya, agama tak luput dari mata rantai penindas-tertindas ini. Mata rantai tersebut dapat diterangkan secara sederhana sebagai berikut, jika pada awalnya ketika agama baru lahir, para penganut agama tersebut berada pada posisi sebagai kaum yang tertindas (dan sejarah sebagian besar agama menunjukkan hal itu), namun seiring dengan waktu, lambat laun, jumlah orang yang menganut agama baru tersebut menjadi sedemikian besar, maka tibalah giliran mereka bersalin rupa menjadi “penindas” baru terhadap mantan “majikannya” yakni agama atau kepercayaan asal yang selama ini menganiaya mereka. Bahkan, hal ini tidak berhenti sampai di sana. Bentuk penindasan tersebut tidak hanya terjadi kepada pihak eksternal, atau pihak di luar agama bersangkutan, tetapi juga terjadi di dalam agama tersebut. Dengan kata lain, di dalam agama tersebut seakan-akan terbentuk “kelas penindas” yang menindas saudara-saudaranya yang dianggap menyimpang dari rel ajaran agama yang mereka anut.

Sekarang mari kita lihat contohnya dalam sejarah. Ketika Kristen lahir, agama ini  menjadi bulan-bulanan tidak hanya agama Yahudi, tetapi juga agama-agama pagan, seperti agama pagan Romawi. Selama kurang lebih 3 abad, kaum kristiani dikejar-kejar, dibunuh, dianiaya dan dijadikan martir akibat kepercayaan yang mereka anut. Bahkan di zaman Romawi, kekejaman yang mereka alami sangatlah luar biasa. Mereka dijadikan tontonan di colosseum-colosseum dan diumpankan kepada singa, serigala, atau dipertarungkan dengan para gladiator hingga tewas. Tetapi, sejarah  kemudian mulai memihak mereka, lambat laun jumlah penganut Kristen semakin meningkat dan puncaknya ketika Kaisar Romawi, Constantin menyatakan bahwa agama Kristen adalah agama Negara. Keadaan menjadi sedemikian rupa berbalik, Kristen yang dahulunya tertindas tak segan mengikuti jejak penindasnya dahulu, yakni dengan menjadi penindas pula. Kaum pagan yang tersisa ditumpas. Lantas, praktek penindasan mulai terjadi ke dalam, saudara-saudaranya yang dianggap menyebarkan bid’ah ditumpas, dibakar atau disalib. Golongan-golongan seperti Protestan, merasakan hal ini diawal kelahirannya.    

            Lantas, bagaimana dengan Islam ? Sejarah Islam awal sesungguhnya menampilkan kenyataan yang unik. Peristiwa Futuh Mekkah menjadi bukti, di mana Rasulullah Saw memutuskan mata rantai “penindas dan tertindas.” Pada waktu itu, dengan kekuatan 10.000 sahabat, Rasulullah Saw memasuki gerbang kota Mekkah. Kaum Quraisy yang memusuhi beliau Saw sangat panik, dan lari tunggang langgang. Hal ini wajar, karena mereka mengira inilah saatnya kaum muslimin menuntut balas. Tentunya mereka membayangkan perlakuan keji mereka terhadap kaum muslimin selama ini akan dibalas dengan perlakuan keji atau bahkan lebih keji kaum muslimin kepada mereka. Namun, sejarah ternyata tidak menulis demikian. Peristiwa kemenangan ini tidaklah berubah menjadi ajang “vendeta” atau balas dendam. Hampir tidak ada darah tertumpah pada saat itu. Hal ini terjadi karena Rasulullah Saw mengampuni mereka yang menganiaya kaum muslimin. Padahal di antara mereka ada yang merupakan pembunuh paman beliau Saw, Hamzah dan puteri tercinta beliau sendiri Zainab r.a.  

            Hal serupa berulang ketika Perang Salib. Pada saat pasukan muslim di bawah pimpinan Sultan Salahuddin telah tiba di gerbang kota Jarusalem, sang Panglima Nasrani, menghadap beliau dan berkata, “Aku akan menyerahkan kota ini padamu, namun aku takut perbuatan nenek moyangku 100 tahun lalu ketika menduduki kota ini kau ulangi, mereka telah membantai anak-anak, perempuan dan orang tua dari kaummu,” Sultan Salahuddin  berjanji, “Aku sekali-kali bukanlah tipe orang seperti itu !” Mendengar janji beliau, Sang Panglima Nasrani kemudian menyerahkan kota Jarusalem kepada kaum muslimin. Dan benar saja, kaum Nasrani tidak dianiaya dan tidak dicabut hak-haknya.

            Namun, rupanya kaum muslimin pun tidak luput dari mata rantai penindas-tertindas ini. Lambat laun dalam kalangan muslimin mulai terbentuk lapisan “penguasa tafsir” yang seakan-akan lebih berhak menafsirkan Islam dibanding yang lainnya. Bahkan, dalam kenyataannya peranan Nabi Saw pun telah mereka lampaui. Mereka dengan sangat yakin merasa mengetahui kehendak Allah Ta’ala. Dengan demikian mereka merasa sebagai wakil-Nya, sehingga mereka tak sungkan untuk mengambil alih hak-hak-Nya.  Lapisan ini dapat saja bernama, ulama, ustadz atau habib. Namun, watak mereka sesungguhnya tak jauh dari para penindas. Dan Rasulullah Saw telah memeringatkan kepada kita tentang ulama-ulama semacam ini. Menurut beliau Saw, “di akhir zaman, ulama-ulama seperti ini adalah seburuk-buruknya makhluk di kolong langit.” Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s