Ketika Agama Dianggap Sekadar Kosmetik

KETIKA AGAMA DIANGGAP SEKADAR KOSMETIK

Akhmad Faizal Reza

 

           

            Ada sementara orang yang menganggap dewasa ini merupakan era kebangkitan agama. Argumen tersebut sah-sah saja diutarakan jika yang menjadi ukuran adalah semakin banyaknya tempat-tempat ibadah didirikan, berbondong-bondongnya masyarakat menyaksikan tabligh akbar, ceramah dan sejenisnya, serta maraknya rumah-rumah produksi (Production House) membuat tayangan sinetron religi. Tak ketinggalan di dalamnya adalah berbagai kompetisi yang mencetak da’i-da’i instan. Namun apakah hal ini menunjukkan bahwa posisi agama kembali menguat di tengah-tengah masyarakat?

Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Sebab, hal-hal tersebut bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk menilai menggeliatnya keberagamaan masyarakat. Sebab, bisa jadi ini sekadar gejala eskapisme atau pelarian semata. Ketika orang pada mulanya terpukau dengan teknologi yang menawarkan begitu banyak kemudahan, kecepatan dan akses tiada batas, di sisi yang lain semua itu justeru menimbulkan ketidaknyamanan dan menyisakan ruang kosong dalam sanubari. Jadilah agama salah satu tempat pelarian orang-orang dari zona mabuk teknologi. Jika futurolog John Naisbitt melihat fenomena tersebut  kentara di Amerika, penulis meyakini hal serupa terjadi di tanah air kita. Seperti di Amerika sana, belakangan di sini pun konsumsi masyarakat akan buku-buku agama dan psikologi popular  meningkat pesat dibandingkan buku lainnya.  

Hanya saja, ketika keberagamaan dipersepsikan sebagai pelarian, maka yang terjadi kemudian agama diterjemahkan menjadi semacam kosmetik. Dari permukaan terlihat indah dan cantik, namun kosmetik tetaplah sebuah pulasan serta polesan artifisial yang berfungsi menyembunyikan kekurangan wajah aslinya. Ibarat gincu yang mengicu, fenomena tersebut terlihat dari hal-hal berikut:

 Pertama, ada jarak yang semakin melebar antara nilai-nilai yang diajarkan agama dengan realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Memang nampak sepintas, kini kita banyak menemukan sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang memakai embel-embel agama di belakang namanya. Rumah-rumah ibadah seperti mesjid bertebaran hingga pelosok-pelosok desa.. Acara-acara keagamaan, semacam tabligh akbar, istighasah, ceramah atau khutbah para da’i kondang menghiasi program radio dan layar televisi kita. Tetapi hal itu semua masih harus dibuktikan efektifitasnya. Alih-alih berhasil menggerus kemungkaran, secara kualitas modus dan praktek kejahatan kian hari kian mengalami sofistikasi. Jangan-jangan orang yang menyaksikan acara-acara semacam itu memperlakukannya sebagai “instrumen katarsis” belaka. Persis seperti kita meyaksikan konser musik atau nonton film di bioskop, di mana tujuan paling utama orang datang ke sana adalah untuk memuaskan kebutuhan  entertainment mereka. 

Kedua, begitu mudahnya masyarakat bangsa ini tersulut konflik yang seringkali diselesaikan dengan kekerasan. Pertanyaannya, bukankah sudah semenjak lama masyarakat kita terkenal agamis ? Sejatinya tidak satupun pesan-pesan keagamaan yang menghalalkan kekerasan. Tetapi sekarang, kekerasan begitu mudah dicetuskan bahkan oleh hal-hal yang cetek sekalipun. Maka kemudian, tidaklah aneh apabila kita menyaksikan kejadian-kejadian semisal, pilkada rusuh karena calonnya kalah, tawuran warga antar desa hanya lantaran berebut gadis desa, maling ayam dikeroyok hingga tewas,  massa menyerbu rumah seseorang yang dituduh dukun santet serta tindakan anarkis lainnya.

 Ketiga, ada keterputusan pesan-pesan agama yang sampai kepada masyarakat kita. Padahal, di tengah-tengah beragamnya media informasi dan komunikasi massa semestinya masyarakat tidak pernah kekurangan pesan-pesan kegamaan. Apalagi akses untuk mendapatkannya semakin terbuka lebar. Pengelola media pun telah merancang serta mengemas acara-acara semacam ini sedemikian rupa. Jika pada dasawarsa sebelumnya pesan-pesan ini cenderung dikemas secara satu arah, Kini, program keagamaan dibuat lebih menarik, seperti melibatkan interaksi audience, membuat muatan acara yang lebih santai serta menghibur  atau meliput live acara-acara keagamaan.

  Keempat, dan ini yang penulis anggap paling gawat. Kekerasan berkelindan dengan jargon-jargon keagamaan. Bukankah hubungan antara agama dengan kekerasan diibaratkan “air dan minyak” alias tidak pernah ketemu ? Tetapi, akhir-akhir ini kasus kekerasan atas nama agama kerap dilakukan dan memperlihatkan gejala mengkhawatirkan. Terkesan kekerasan sah-sah saja dilakukan, bahkan wajib hukumnya, dan orang yang mempraktekannya mendapat ganjaran pahala. Pertanyaan yang mendesak dijawab, di manakah klaim-klaim yang selama ini menyebutkan bahwa masyarakat kita sangat toleran ? Di manakah kita temukan hari-hari penuh kedamaian ketika setiap orang dapat menjalankan keyakinan dan kepercayaannya dengan tenang ? Yang terjadi malah kebalikannya. Mesjid-mesjid Ahmadiyah dihancurluluhkan. Rumah-rumah milik anggotanya dibakar, dan penghuninya diusir dari tanah kelahirannya sendiri. Ketika para pelaku kekerasan ditanya mengapa mereka melakukan perusakan, secara otomatis mereka mendasarkan tindakannya kepada fatwa MUI yang menyatakan Ahmadiyah sesat.  Agaknya, setiap orang dapat dengan mudah mengklaim bahwa tindakannya merupakan jalan yang diperintahkan agama, namun di sisi lain kita sulit untuk menelisik motif di belakangnya. Tindakan yang muncul ke permukaan sepertinya terlihat agamis, namun hal itu belum tentu didorong oleh motif-motif keagamaan. Bisa saja motif tersebut muncul berlatar belakang kecemburuan,  rasa frustrasi atau semata kepentingan ekonomi .

Last but not least, semoga ini hanya tindakan segelintir orang. Bukankah, mayoritas masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang moderat ? Dan mereka merupakan silent majority. Namun pertanyaannya, sampai kapan kita terus diam dan membiarkan hal ini berulang terjadi ? Sebab, bukankah ada pepatah “tidak selamanya diam itu emas ?” Wallahu’alam.

 

           

One response to “Ketika Agama Dianggap Sekadar Kosmetik

  1. czemu nie:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s