SURAT TERBUKA UNTUK MENTERI AGAMA

SURAT TERBUKA UNTUK MENTERI AGAMA

Akhmad Faizal Reza

 

“Jadilah seorang hamba selama kau bukan seorang tuan :

Janganlah kemudikan perahu itu selama kau bukan juru mudi.”

(Jalaluddin Rumi)

Kepada  Menteri Agama terhormat,

            Ketika Bapak menawarkan dua pilihan kepada Ahmadiyah untuk tetap dalam Islam atau membentuk agama baru di luar Islam, sebenarnya Bapak tidak sedang menyelesaikan apa-apa. Pilihan yang bapak tawarkan adalah pilihan bersyarat dan masing-masing mengandung resiko. Kedengaran lebih mirip ultimatum ketimbang pilihan. Persis seperti jurkam daerah pada masa Orde Baru lalu. Menggembar-gemborkan kebebasan, tetapi jika rakyat tidak memilih partai pemerintah, maka mereka tidak akan mendapatkan apapun. Pilihan semestinya hanya mensyaratkan kebebasan untuk memilih atau bahkan tidak memilih sama sekali, tanpa embel-embel lain di belakangnya.

           Seandainya Ahmadiyah dipaksa memilih opsi kedua, persoalan tidak lantas selesai. Pada gilirannya kita akan menyaksikan “model Pakistan” diimpor ke negara kita. Bukankah di sana para pengikut Ahmadiyah dilarang memakai nama mesjid untuk tempat ibadahnya ? Dilarang mengumandangkan adzan untuk memberitahukan waktu shalat kepada umatnya ? Dilarang menghadap kiblat ketika mereka melakukan ibadah shalat ? Dilarang membaca Al-Qur’an yang senantiasa mereka baca setiap hari ? Dilarang mengucapkan shalawat kepada junjungan yang sangat mereka cintai yakni Rasulullah Saw ? Bahkan, dilarang untuk sekadar mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada tetangganya ? Sebab, jika nampak, aparat kepolisian tak segan menjebloskan mereka ke dalam penjara.

Dan kalau hal itu terjadi, tanpa sadar kita telah melarang sekelompok orang melakukan keyakinan dan praktek ritual yang sesungguhnya sama dengan kebanyakan kaum muslimin lainnya. Lantas, di manakah letak perbedaan antara kita dengan Ahmadiyah ? Tidakkah kita belajar dari sejarah bagaimana Allah memperingatkan Nabi Musa as. lantaran memarahi keyakinan seorang penggembala ? Dalam riwayat diceritakan Nabi Musa melihat seorang penggembala sedang berdo’a: “Duhai yang memilih orang yang Dikau kehendaki : Di mana Dikau, supaya aku jadi hamba-Mu, supaya aku memperbaiki baju jubah-Mu dan menyisir rambut-Mu, Supaya aku cuci pakaian-Mu, dan membunuh kutu-Mu, Membawakan untuk-Mu susu, Duhai Yang Mahatinggi ! Mencium tangan indah-Mu, memijit kaki-Mu, supaya aku bersihkan ruang kecil-Mu pada saat akan tidur !…Musa bertanya kepada si penggembala, siapa yang disapanya. Sang penggembala menjawab bahwa yang diajaknya bicara adalah Tuhan. Mendengar hal itu, Musa marah dan menyuruh sang penggembala menyumpal mulutnya dengan kapas. Namun, Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya yang keras itu, bahwa Dia mengutusnya bukan untuk memecah belah orang, tetapi justeru untuk mempersatukan mereka.

Peringatan Allah terhadap Nabi Musa mengandung pelajaran penting. Pertama, Allah menganugerahkan wewenang kepada manusia, namun cakupannya sangat terbatas dan dipagari oleh wewenang atau wilayah Allah Taala Yang Maha Tidak  Terbatas.  Di sini kita harus bisa mengidentifikasi mana yang merupakan porsi manusia dan mana porsi Allah Taala. Ketika kita menggugat atau menghakimi keyakinan yang berbeda, sesungguhnya kita “meloncati pagar “ wewenang yang telah Allah berikan. Dengan kata lain, kita sengaja menegasikan wilayah-Nya. Jangankan Bapak sebagai Menteri Agama, Rasulullah Saw –kekasih-Nya- tidak diizinkan untuk mengambil wilayah-Nya itu. 

Kedua, masih berkaitan dengan point pertama. Meski dalam keterbatasan, Allah memberikan kebebasan juga kepada manusia. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk tetap di Jalan-Nya atau sebaliknya, berbelok dan berpaling dari jalan tersebut. Dengan demikian, kebebasan berkeyakinan merupakan salah satu hak asasi yang dijamin Allah Taala sendiri. Lagi-lagi di sini kita tidak bisa dan tidak berhak memaksakan kehendak serta merampas kebebasan orang lain.  

Ketiga, Allah memerintahkan kita mencari “kalimat-un sawaa” (titik temu) dengan penganut agama lainnya (QS 5 : 48). Diakui atau tidak, pesan-pesan Islam merupakan kontinuitas atau gugusan kesatuan dari pesan-pesan sebelumnya.  Oleh karena itu tidak dapat diupungkiri adanya titik-titik persamaan, semisal, seperti keyakinan akan ke-Esaan Tuhan, dilarang membunuh, melakukan pencurian, berzina, berdusta dan sebagainya. Jika dengan penganut agama lain kita dituntut untuk mencari persamaan, lebih-lebih dengan Ahmadiyah.  Mereka sama sekali bukanlah orang lain. Mereka masih saudara se-islam (Ukhuwah Islamiyah) dan se-iman (Ukhuwah Imaniyah). Antara Ahmadiyah dengan kaum muslimin sebenarnya tidak ada istilah “kita” dan “mereka.” Dengan demikian kita harus memperlakukan Ahmadiyah sesuai sabda Rasulullah Saw yakni, sebagai satu tubuh dengan kaum muslimin lainnya.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita merenungkan syair Jalaluddin Rumi di atas.  Saya sebut “kita” karena himbauan ini bukan untuk Menteri Agama semata, tetapi berlaku pula bagi kita yang telah Allah juluki sebagai “khayra ummatan.” Jangan mentang-mentang mendapat julukan sebagai “umat terbaik” lantas kita berani merampas hak Allah Taala. Sebab, perjalanan keimanan kita masih sangat jauh untuk dapat disebut sempurna. Dan sejatinya tidak ada kesempurnaan ketika berhadapan dengan makhluk seperti kita. Sungguh tepat pesan yang disampaikan Maulana Jalaluddin Rumi dalam syairnya,  “Selama rohanimu belum sempurna, janganlah kau membuka kedai sendiri. Jadilah orang yang bertangan lentur, dengan begitu kau bisa meragi dan menguli seperti adonan. Dengarkanlah perintah Ilahi, “Jadilah pendiam.” Membisulah. Jika kau berbicara, bicaralah untuk  meminta penjelasan. Kalau kau tidak menjadi lidah Tuhan, jadilah telinga. Jika kau berbicara, bicaralah sebagai seorang pengemis yang hina di hadapan kebesaran ruhani. “

 

Penulis, Pemerhati masalah sosial & agama, tinggal di Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s