TERPEROSOK KE LUBANG YANG SAMA

Oleh : Akhmad Faizal Reza

“L’histoire se repete” sebuah adagium Perancis yang artinya sejarah selalu berulang. Fenomena ini dapat menimpa masyarakat, kaum atau siapapun juga yang tidak dapat belajar dari sejarah, tak terkecuali umat Islam. ”Nothing new under the sun Artinya, tidak ada yang sama sekali baru di kolong langit ini. Boleh-boleh saja ilmu pengetahuan dan teknologi manusia semakin maju, tetapi ketika mereka mulai melupakan sejarah, maka mereka akan terjerumus pada kesalahan yang pernah dibuat nenek moyang mereka. Dan kesalahan inilah yang dipertontonkan belakangan ini di tanah air kita berkaitan dengan kasus Ahmadiyah.

Hanya karena memiliki penafsiran berbeda, terutama mengenai ranah kenabian, kita –yang mengatasnamakan umat Islam mayoritas- seakan-akan sudah mendapat mandat dari Allah Ta’ala untuk mengafirkan, menuduh sesat, merusak rumah peribadatan bahkan meneror para penganut Ahmadiyah. Padahal, menurut Ulil Abshar Abdalla, ”Dalam kalangan umat Islam sendiri, ranah kenabian adalah ranah yang tidak terlalu mendapat perhatian.” Artinya, hanya sedikit saja kajian atau pembahasan para ulama atau cendikiawan Islam mengenai ranah ini. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar umat Islam –terutama ulamanya- menganggap bahwa ranah kenabian telah selesai. Dengan diutusnya Muhammad Saw, maka sempurnalah ajaran-Nya kepada seluruh umat manusia, dan berakhirlah mata rantai kenabian. Pada gilirannya, mereka kemudian menganggap bahwa Allah Ta’ala tidak lagi menurunkan wahyu. Atau dengan kata lain, Allah tidak berkata-kata lagi kepada umat manusia.

Sejatinya, jika kita mau menengok sejarah maka kita akan melihat kejadian seperti ini berulang kali terjadi. Seakan-akan sejarah dengan lantang mengatakan kepada kita, ”Tidakkah kalian memetik pelajaran dari masa lalu !?” Riwayat-riwayat yang terekam dalam Al-Qur’an semestinya merupakan pelajaran berharga bagi kaum Muslimin. Paham bahwa nabi dan rasul tidak mungkin lagi datang sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw bukanlah suatu pendapat baru. Ini merupakan pengulangan sejarah. Bukankah paham itu juga yang disuarakan kaum Nabi Yusuf a.s. setelah beliau wafat ? Kenabian Yusuf a.s. –seperti juga pada kenabian lainnya- ditentang keras oleh kaumnya. Tetapi, setelah beliau a.s. wafat, orang-orang yang menolak kenabian beliau menjadi sadar dan percaya kepadanya.Bahkan saking fanatiknya mereka kepada Nabi Yusuf a.s. sehingga mereka mengatakan, ”Sesudah beliau, Allah tidak akan pernah lagi mengangkat siapa pun yang akan menjadi rasul” (Al-Mu’min :35).Kaum Yahudi menyatakan hal senada sepeninggal Nabi Musa a.s. Mereka berpendapat bahwa Nabi Musa a.s. adalah nabi terakhir dan tidak akan ada lagi nabi sesudahnya. Dalam kitab Muslimus Subut, dikatakan, ”Kesepakatan Yahudi, ialah bahwa nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Musa.(Jilid II, hal.170).

Seperti kita ketahui dari sejarah bahwa setelah Nabi Yusuf a.s. dan juga setelah wafatnya Nabi Musa a.s. Allah masih menurunkan atau mengutus nabi-nabi lainnya di tengah-tengah kaum Bani Israil. Namun, mereka kadung percaya bahwa pangkat kenabian telah berakhir. Akibatnya, sungguh tragis, anugerah kenabian yang diberikan Allah Ta’ala, justeru berbalik menjerumuskan mereka ke dalam azab yang pedih. Penolakan mereka terhadap kedatangan nabi-nabi lainnya, semisal Nabi Yahya a.s. dan Nabi Isa a.s. akhirnya menghancurkan peradaban dan kebudayaan Bani Israel. Gelombang penjajahan –bangsa Babilonia dan bangsa Romawi- penjarahan, meluluh lantakkan negara yahudi dan mencerai-beraikan serta mengusir rakyat dari tanah air mereka sendiri. Sebuah periode yang dikenal dengan nama Diaspora.

Ironisnya, peristiwa ini tidaklah menjadi pelajaran bagi kita. Sejarah itu mengajar atau ”historia docet” malah menjelma menjadi sejarah itu ”menghajar” kita hingga babak belur. Jalan yang ditempuh umat Yahudi pada derajat tertentu justeru diulangi lagi oleh kaum Muslimin. Dengan mudahnya kita menisbahkan cap sesat, kafir, dan bahkan mendemonisasi seseorang, atau sekelompok orang yang menganggap bahwa pintu kenabian masih tetap terbuka. Ahmadiyah bukanlah satu-satunya kasus. Pertanyaannya, apakah kita telah benar-benar meyakini dengan pendapat kita sendiri. Sebab, jika kita merujuk pada pelajaran yang terekam dalam Al-Qur’an maka semestinya kita tidak begitu mudahnya menisbahkan cap kafir, pengekor nabi palsu kepada mereka (baca : Ahmadiyah). Tidakkah kita takut terjerumus pada kesalahan sama yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya ? Jangan-jangan kitalah sebenarnya para pewaris pendeta Parisi yang justeru menyalibkaan Nabi Isa a.s.

Dengan sejarah pula kita mengenal tokoh-tokoh yang berani berbeda dengan kepercayaan mayoritas. Di kalangan kaum Yahudi, kita mengenal Maimonedes atau Musa bin Maimun. Seorang filosof Yahudi yang hidup sejaman dengan Ibn Rusyd ini berpendapat bahwa puncak kenabian sesungguhnya adalah Musa. Tetapi dimungkinkan akan datangnya kenabian minor. Kenabian minor, menurut penjelasan Ulil adalah kenabian yang muncul sebagai repetisi atau paling jauh penyempurna terhadap sebelumnya. Ia tidak sepenuhnya hadir dengan ajaran baru. Jadi Isa, Muhammad, serta Nabi-Nabi setelah Musa, dalam perspektif Maimonides hanya mengulang atau menegaskan ajaran yang telah dibawa Musa. Artinya, fenomena kenabian itu masih terus berlanjut. Di dalam kalangan Islam sendiri pun, di antaranya dari kalangan sufi, ulama, dan cendekiawan ada juga yang bersuara demikian, semisal Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi, Imam Sya’rani, Sayyid Waliyullah Muhaddist Al-Dahlawi, Imam Suyuthi dan lainnya.

Penulis sangat mengharapkan tulisan yang sederhana ini dapat memantik para cendekiawan, ilmuwan dan ulama Islam agar lebih mengedepankan akal –tentunya sembari tidak melupakan nash-nash Al-Qur’an serta hadits- dan mau belajar dari sejarah. Bukankah, akan lebih bijak jika kita menelaah dan mengkaji terlebih dahulu tema yang jarang disentuh ini sebelum kita menisbahkan tuduhan buruk kepada orang lain ? Jangan sampai kita menjadi seperti apa yang disampaikan Goethe, ”orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.”wallahu’alam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s