Sikap terhadap Pemeluk Agama dan Kepercayaan Lain.

Sikap terhadap Pemeluk Agama dan Kepercayaan Lain.

Oleh : Dildaar Ahmad

a. Ketegasan Dalam Berakidah

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil bapak-bapakmu dan saudara-saudara laki-lakimu menjadi sahabat jika mereka lebih mencintai kekufuran daripada keimanan. Dan barangsiapa di antaramu bersahabat dengan mereka, maka mereka itu orang-orang aniaya.” (Surah At-Taubah: 23)

Hadhrat Khalifatul Masih IV rohmatullah ‘alaihi., Mirza Tahir Ahmad menafsirkan ayat ini sebagai khusus membicarakan jenis keluarga yang di antara mereka sikap permusuhannya terhadap Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan agama-Nya sedemikian rupa kerasnya. Nasihat yang berkaitan dengan menjaga hubungan baik dengan keluarga sebatas mereka tidak menunjukkan sikap permusuhan terhadap akidah agama yang diimani.

Allah Ta’ala tidak melarang menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang tidak menentang kebenaran secara terang-terangan. Sebaliknya, bagi mereka yang nyata dan terang-terangan menentang kebenaran, ada keharusan memutuskan hubungan dengan mereka. Kalau tidak, dalam pandangan Allah orang tersebut termasuk mereka yang menentang itu.[1]

Keyakinan akan keselamatan lewat jalan Islam juga mempunyai konsekuensi logis berupa menghindari sikap-sikap munafik seperti mengiyakan begitu saja (mudaahanah) pernyataan orang yang berbeda kepercayaan. Kendatipun kita perlu menghindari suburnya pengakuan akan kebenaran pandangan beragamanya sendiri yang memicu pertengkaran dan diskriminasi. Klaim kebenaran dalam arti menyakini dan menyampaikan kebenaran atau mengklarifikasi anggapan yang tidak sesuai dengan keyakinan masing-masing tetap diperlukan dengan mengedepankan etika, sopan satun dan tata krama. Hadhrat Masih Mau’ud bersabda sebagai berikut:

“Adalah wajib bagi manusia untuk tidak bersikap munafik. Misalnya jika ada seorang Hindu apakah itu penguasa atau pun pejabat mengatakan bahwa Raam dan Rahiim itu satu adanya, maka pada kesempatan seperti itu janganlah mengiya-iyakan saja. Allah Ta’ala tidak melarang kita dari peradaban atau tata krama. Berikanlah jawaban yang sesuai dengan tata-krama. Hikmah itu bukanlah berarti supaya kita melakukan pembicaraan yang tanpa sebab menimbulkan amarah serta peperangan. Janganlah sekali-kali menyembunyikan keimanan. Dengan cara mengiya-iyakan, manusia itu bisa menjadi kafir. Hendaknya kita harus menjaga dan memelihara ‘perasaan’ Allah Ta’ala. Di dalam agama kita tidak terdapat hal-hal yang bertentangan dengan peradaban.”[2]

b. Dialog Sebagai Salah Satu Proses Solusi

Seorang ilmuwan Muslim Ahmadi Indonesia, Soekmana Soma menganjurkan sikap ilmiah yang dipraktekkan para ilmuwan guna menghadapinya. Dalam kehidupan ilmiah belum pernah terjadi kasus pertengkaran antar ilmuwan karena hipotesis atau penemuannya dibantah atau dipatahkan oleh ilmuwan lainnya. Belum pernah terjadi sekelompok ilmuwan di dalam sebuah wadah majelis ilmuwan, baik dalam skala internasional, nasional maupun lokal bersama-sama menyatakan penelitian seseorang sebagai sesat dan menyesatkan serta harus dilarang.[3]

Soekmana Soma juga menganjurkan dialog yakni, pertukaran dan diskusi ide-ide, khususnya dalam rangka mencari pengertian bersama atau mencapai keadaan yang harmonis. Sebuah dialog hanya dapat terlaksana jika pihak-pihak yang berbeda ‘duduk’ bersama dalam kedudukan sederajat dan berkomunikasi dengan cara yang patut, layak, sopan, berbudi dan beradab – apalagi jika peserta dialog adalah umat beragama. Kontroversi seputar isu-isu pluralisme agama semakin jauh dari manfaat manakala tidak ada pijakan dialog.

Guna mendekatkan masing-masing pihak kepada kebenaran dan bersepakat dibutuhkan standar, yakni logika dan akal sehat manusia. Dengan dibantu oleh kebangkitan ilmu pengetahuan logika dan akal sehat tidak mengenal pernyataan iman, warna kulit maupun agama. Logika itu sama bagi semua orang maupun agama. Logika dan logika sajalah yang dapat memberi kita suatu pijakan untuk bersepakat.[4]

Logika menjadi faktor utama telaah kritis terhadap doktrin agama. Agama-agama di tengah kemajuan sains dan riset tertantang untuk bertahan menghadapi telaah kritis baik secara historis maupun teks. Sebuah pemahaman agama bisa mengelak dengan memisahkan kebenaran doktrin agama dari kebenaran sains tetapi seperti yang dikatakan oleh Galilio Galilie, “two truths cannot obviously contradict each other” dua kebenaran tidak mungkin bertentangan satu dengan lainnya.

Sikap melarikan pembahasan teks-teks agama yang perlu ditafsirkan secara metafora dengan bermain dalam istilah ‘misteri’ dan ‘transenden’ layak dijauhi karena akan berakhir pada keengganan manusia untuk berkreasi dan berpikir. Istilah gaib atau transenden sebagai sebuah kebenaran yang tidak terjangkau akal pikiran membawa alam berpikir umat Islam ke dalam dunia kahyangan – dunia dongeng. Pelarian ini juga membuat wajah agama dalam posisi bertahan di tengah-tengah serangan ilmu pengetahuan dan sains bukan pendukung bahkan pendorong. Ketiadaan gaya ofensif menandakan kematian daya hidup agama tersebut.

Agama tidak bisa memisahkan diri dengan dunia sains karena kita hidup di dunia ilmiah dan para pendiri agama sendiri diklaim pernah hidup di bumi ini artinya keberadaan mereka sendiri diakui sebagai fakta. Oleh karena itu, kehidupan dan ajaran mereka dapat diverifikasi melalui sebuah kajian historis kritis. Bagi para ilmu ilmuwan sejati, patahnya suatu temuan ilmiah yang kemudian disempurnakan dengan temuan baru merupakan kemenangan kolektif – suatu kemenangan ilmu pengetahuan dalam upaya membuka tabir rahasia alam semesta yang maha luas! Kemajuan ilmu dan teknologi menghasilkan kebenaran relatif yang terus-menerus diperbaiki menjadi lebih pasti – mendekati kebenaran hakiki. [5]

Wacana-wacana keagamaan seperti turunnya Nabi Isa secara fisik dari langit di akhir jaman, Tuhan itu satu sekaligus Tiga (Trinitas), Mi’raj (kenaikan) Nabi dengan badan fisik ke langit, Adam manusia pertama bukanlah sesuatu yang transenden karena dapat diverifikasi dengan metode ilmiah dan argumentasi logis.

Wacana kebenaran transenden adalah upaya untuk menyamarkan legenda, mitos dan penipuan akidah menjadi suatu ‘kebenaran hakiki’ jika bukti-bukti yang menguatkan menunjukkan sebaliknya. Begitu juga kecenderungan menyatukan semua kebenaran agama dalam suatu kesatuan transenden merupakan rekaan imajinasi induktif dengan bahasa yang cukup menyesatkan seperti yang dinyatakan oleh Naguib Al-Attas pada Bab II. Doktrin atau ajaran suatu agama atau bahkan agama itu sendiri bisa saja ditinggalkan karena bertentangan dengan sains dan fakta sejarah. Kritisi dan revisi sementara kalangan jika terbukti benar dan valid menghasilkan konsep kebenaran yang lebih akurat atau mutlak dalam batas tertentu.

c. Sikap Tidak Saling Mencela dan Memanggil dengan Nama Buruk

Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman agar menghindari sikap merendahkan, mengolok-olok, mencela dan memanggil dengan panggilan yang buruk. Panggilan buruk ialah gelar-gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari dengan gelar itu, seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.[6]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencemoohkan kaum lain, mungkin mereka (yang dicemoohkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mencemoohkan), dan janganlah wanita mencemoohkan wanita lain, mungkin mereka (yang dicemoohkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mencemoohkan), dan janganlah kamu memburuk-burukkan di antara kamu, begitu pula jangan panggil-memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruk nama adalah fasik sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang aniaya.” (Surah Al-Hujurat (49): 12)

Ayat diatas menyebutkan beberapa keburukan sosial, yang menyebabkan ketidakserasian, pertentangan dan perselisihan yang dengan menghindarinya tercipta keserasian, keakraban, dan kerjasama yang baik di antara orang-orang Muslim secara individu atau golongan.[7] Cara dakwah Islam dengan cara mencap ‘sesat dan menyesatkan’, ‘Jaringan Iblis Laknatullah’, ‘keluar dari Islam’ dan sebagainya tidak mendapat justifikasi dari Alquran. Bisa jadi apa yang dituduhkan berbalik kepada si penuduh yakni, mereka yang memenuhi kualifikasi sesat, iblis dan keluar dari Islam.

Mungkin ada anggapan bahwa ayat ini khusus ditujukan kepada sesama orang yang beriman atau mukmin artinya tidak diterapkan kepada selain mereka sehingga memulai mengolok-olok, mencela dan memanggil dengan nama buruk kepada orang-orang yang dianggap sesat, salah bahkan menentang Islam dibenarkan.

Anggapan ini tidak tepat dengan beberapa argumentasi. Pertama, ada ayat Alquran lain yang menyebutkan cara berdakwah bil hikmah (dengan kebijaksanaaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah) dan jadilhum billati hiya ahsan (berdebat dengan cara sebaik-baiknya) sebagaimana dapat dibaca dalam Surah An-Nahl,16:126.

Kedua, sekalipun ada ayat Alquran menyebut kafir kepada orang yang menuhankan Isa dan menolak para nabi namun tidak ada tradisi atau sunnah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pergaulan sehari-hari untuk memanggil mereka kaum sesat menyesatkan, orang-orang kafir dan lain sebagainya.

d. Tidak Mencaci-maki Obyek Penuhanan Pemeluk Kepercayaan Lain

“Dan janganlah kamu memaki apa yang diseru mereka selain Allah, maka mereka memaki Allah karena rasa permusuhan tanpa ilmu. Demikianlah Kami menampakkan indah kepada tiap-tiap umat amalan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, maka Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am, 6: 109)

Walaupun Alquran dengan kuat melarang penyembahan berhala, namun Dia mengajarkan pemeliharaan kehormatan dan perasaan orang yang berbeda kepercayaan. Ayat ini bukan saja menanam rasa hormat terhadap perasaan-perasaan halus orang-orang musyrik sekalipun, tetapi bertujuan juga menciptakan keakraban antara berbagai bangsa. Ayat ini menunjukkan jika kaum Muslimin tidak mengikuti ajaran ini, maka diri mereka sendiri akan bertanggung jawab jika Allah dicaci maki dan selanjutnya mengganggu kerukunan komunal suatu masyarakat. Disamping itu, Islam juga mengajarkan sikap penghormatan kepada kepada pemimpin kaum-kaum lain yang bukan nabi, para pemimpin agama dan non-agama. Sikap melaknat, mengutuk dan mencaci-maki baik terang-terangan maupun tersembunyi perlu dijauhi.

Lafaz zayanna tidak berarti Tuhan sendiri menyebabkan perbuatan-perbuatan jahat manusia nampak indah. Kata itu hanya menunjukkan bahwa Dia telah menciptakan sifat manusia demikian rupa (dan dalam hukum Ilahi ini terletak rahasia kemajuan manusia dalam berbagai bidang) bahwa bila ia gigih dalam melakukan tindakan tertentu, ia memperolah perasaan suka pada tindakannya, dan perbuatannya mulai nampak bagus dalam pandangannya. Sesuai hukum umum Ilahi ini kaum musyrikin, yang sudah terbiasa menyembah berhala, akhirnya mengidap kesukaan akan kemusyrikan dan penyembahan berhala, sehingga kebiasaan itu nampak kepada mereka baik dan bermanfaat.[8]

e. Cinta Kasih, Saling Menolong dan Kerjasama dalam Kebaikan

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan berlaku adil terhadap mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surah Al-Mumtahanah: 9)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s